Pages - Menu

Selasa, 12 November 2013

Membuat Film dengan DSLR

Berikut, saya akan membahas lebih banyak tentang pembuatan film dengan menggunakan DSLR. Apa kelebihan, apa kekurangan. Bagaimana pun juga, ke depan, film-film akan lebih banyak menggunakan kamera DSLR. Kecendrungan ke arah itu terjadi belakangan ini. Para produsen kamera, khususnya Canon dan Nikon, produk-produk DSLR terbarunya dilengkapi fasilitas pembuatan video yang hasilnya menakjubkan.Sampai bisa menyamai kualitas film yang menggunakan kamera khusus sinema. Beberapa adegan film “Captain America” diambil dengan menggunakan DSLR, yaitu Canon 5D. Saya lupa seri Mark berapa. Dan beberapa bulan lalu, Canon mengeluarkan DSLR yang ditujukan kepada para sineas, Canon D… yang harga per unitnya sekitar Rp 170 juta. Di Jakarta pun demikian. Ada banyak video klip artis papan atas pengambilan gambarnya menggunakan DSLR, seperti video klip Krisdayanti dan Anang Hermansyah. Bukan karena alasan biaya produksi lebih murah, tetapi kualitas gambarnya. Secara umum, antar merk kamera DSLR, kualitasnya sama. Tinggal memposisikan kelas kameranya. Makin mahal, makin bagus kualitas gambarnya. Yang membuat mahal kamera adalah sensornya. Makin besar sensor makin mahal; makin besar sensor makin bagus kualitas gambar. Tapi itu salah satu faktor. Faktor lainnya adalah kualitas dan jenis lensa yang digunakan. Pengalaman saya, bila kualitas video (biasa diistilahkan “movie”) telah full HD (biasa ditandai dengan angka 1920×1080 dengan frame rate 24 atau 30) atau minimal 1280×720 dengan frame rate 24 atau 30, itu sudah sangat lumayan. Jangan di bawahnya lagi, sebab pakai format rendah, itu sama saja dengan kamera ‘camcoder’. Ya, camcoder juga sudah banyak yang full HD, sebagaimana Handycam Sony HDR-HC9 yang saya punya. Waktu beli, harganya Rp 15 juta tahun 2008.Tapi, kejernihan gambar dan variasi gambar yang bisa direkam tidak sebaik bila menggunakan kamera DSLR. Mengapa? Sebab, DSLR bisa ganti-ganti lensa. ‘Camcoder’ di bawah Rp 20 juta hampir tidak ada yang bisa ganti-ganti lensa. Jadi, mengandalkan lensa yang terpasang ‘mati’ di kamera. Masalahnya, lensa itu tidak bisa menghasilkan “bokeh” sebaik DSLR. Isolasi obyek (antara terang dengan blur) tidak begitu indah di ‘camcoder’, sedang di DSLR bisa. Intinya adalah, kamera DSLR bisa gonta-ganti lensa. Tergantung obyek yang di-shooting, kondisi cahaya, dan efek yang ingin dihasilkan. Sebagai contoh, bila ingin merekam dari jarak jauh, ke body DSLR bisa dipakaikan lensa tele. Tapi ketika akan merekam detail, bisa ganti lensa dengan lensa mikro/makro. Demikian juga bila shooting pemandangan, ruangan, dan atau wawancara. Jadi, walau kelihatannya hemat, investasi pada DSLR jauh lebih mahal. Meski body kamera murah (harga Rp 5-6 juta sudah lumayan sensor dan format gambar yang dihasilkan, khususnya keluaran terbaru), tapi lensa(-lensa) mahal. Mengoleksi 4-5 lensa berkualitas bagus, minimal harganya Rp 20 juta. Ada cara hemat dengan tetap menghasilkan film yang berbeda dengan ‘camcoder’. Belilah body kamera yang spesifikasinya bagus dalam hal movie (full HD) tapi tidak terlalu mahal, rentang Rp 5 - Rp 8 juta. Lalu,gunakan lensa lebar yang kemampuan bukaannya besar. Saya amat takjub dengan hasil shooting yang menggunakan lensa 50mm f/1.4. Bokehnya luar biasa. Tapi sayang, lensanya ‘sempit’. Untuk mengatasinya, saya menggunakan lensa lebih lebar, lensa 35mm yangbukaannya ‘hanya’ sampai f/1.8. Kedua lensa ini ada yang harganya di bawah Rp 2,5 juta di Nikon (ada lensa ukuran sama tapi harga Rp 15 juta), Rp 800 ribu di Canon. Untuk dapat ‘blur’ yang masih mantap, minimal bukaannya f/2.8, seperti pada lensa tele 80-200mm atau lensa makro 60mm. Besar bukaan di atas juga mantap mengambil gambar di bawah kondisi kurang cahaya. Namun kekurangan lensa di atas (35mm dan 50mm), fokusnya fix atau tetap pada 35mm dan 50mm. Beda dengan lensa zoom, bisa lebar (deka), bisa tele, seperti pada lensa ukuran 18-105mm atau 18-135mm atau 18-300mm. Tapi, lensa zoom tidak bisa menghasilkan bokeh luar biasa, yang indah sebab bukaannya hanya sampai pada angka f/3.5, seperti pada lensa-lensa kit (bawaan saat beli kamera). Kelebihan lain dengan menggunakan DSLR adalah tak perlu kaset video. Hanya butuh kartu memori (pakai yang kecepatan menulis datanya tinggi), yang bila penuh, file bisa dipindahkan ke hardisk komputer. Pada ‘camcoder’, mini-DV yang bisa memuat durasi 1 jam, harganya Rp 30.000. Kalau penuh, beli lagi. Bisa sih ditimpa, tapi 4-5 penimpaan, kualitas gambar menjadi tidak maksimal. Dan, bila menggunakan kaset cenderung berlama-lama mengambil gambar, sebab tidak khawatir penuh. Pada DSLR pun, file yang kita mau ambil bisa dipilah-pilah sebelum dipindahkan ke komputer. Kalau kaset, tidak bisa seperti itu.

Selasa, 05 November 2013

fotografi





Belajar Fotografi untuk Pemula


Saat belajar fotografi, ada beberapa hal yang kita musti tahu, tapi pada intinya adalah bagaimana caranya kita bisa mendapatkan gambar sesuai dengan tujuan kita. Misalkan saja kita ingin mengambil gambar sepeda motor yang tengah melaju kencang, pastinya hasil yang diinginkan adalah gambar sepeda motor yang fokus dan latar yang blur. Sayangnya jika tidak tahu teknik pengambilan gambarnya yang ada justru gambar sepeda motor yang menjadi objek utama tadi blur. Jika demikian artinya hasil jepretan yang kita dapatkan tidak sesuai dengan yang diinginkan. Begitu pula ketika kita ingin mendapatkan gambar yang cerah, karena belum tahu saat yang tepat dalam menggunakan blitz, yang ada justru gambar terlalu cerah dan terkesan kaku. Untuk mengetahui hal-hal tersebut kita perlu yang namanya belajar fotografi.

Belajar Fotografi dan Teknik Dasarnya

Ulasan ini ditujukan bagi anda yang baru saja belajar fotografi, teknik yang dijelaskan di sini masih cukup dasar.
  1. Fokus kamera. Foto yang tidak fokus tidak akan nyaman dilihat. Untuk dapat hasil yang fokus, bagi pemula lebih disarankan menggunakan kamera digital karena ini lebih memudahkan bagi anda untuk melihat display objek sebelum dijepret. Pun jika salah menjepret bisa dihapus, berbeda dengan kamera analog yang bisa membuat banyak frame menjadi sia-sia karena sifatnya sekali pakai.
  2. Foto BW atau Sephia
Foto berwarna tidak melulu digemari. Beberapa orang sengaja mengambil foto hitam putih atau shepia (grayscale) untuk berbagai tujuan seperti memberikan kesan lawas pada gambar. Untuk bisa mengambil foto dengan gaya BW atau sephia tersebut bisa langsung pilih di menu pengambilan.
  1. Foto makro. Jenis teknik ini adalah yang bisa digunakan saat kita mengambil objek dengan ukuran cukup kecil seperti bunga. Manfaatkan icon bunga yang ada di kamera untuk mendapatkan efek tersebut.
  2. Gunakan Blitz tepat waktu. Gambar dengan blitz kerapkali hasil jepretan tidak memiliki kedalaman yang baik. Makanya ketika cahanya sudah cukup baik hindari penggunaannya karena bisa membuat hasilnya menjadi over terang. Berbeda halnya jika kita mengambil gambar pada malam hari. Pilih menu dengan icon petir untuk memanfaatkan fitur ini.
  3. Self timer. Jika ingin kamera mengambil gambar sendiri, manfaatkan menu self timer. Iconnya seperti lingkaran yang ada jarum dan titiknya. Pilih menu tersebut lalu letakkan kamera sesuai dengan posisi objek yang mau diambil lalu tekan tombol bidik. Maka setelah dipencet hingga sekitar 10 detik setelahnya kamera akan menjepret sendiri.
Di atas adalah cara dasar mengenai dasar-dasar dalam belajar fotografi, selain tekniknya kita perlu juga tahu tentang cara merawat kamera.

Belajar Fotografi: Tips Menjaga Kamera

Dalam belajar fotografi kita sebaiknya tahu lebih dulu tekni-teknik dasar penggunaannya. Dengan memiliki pengetahuan dasar mengenai cara penggunaannya selain mendapatkan foto yang bagus kita juga akan terhindar dari kecerobohan yang menyebabkan kerusakan kamera.
- Pegang kamera dengan benar
Para pemula banyak yang seenaknya membawa kamera. Cara yang baik untuk kamera pocket adalah memasukkan lengan ke tali gantungan kamera. Tujuannya ketika kamera yang sedang kita pegang terjatuh, talinya masih menggantung di lengan sehingga tidak jadi jatuh. Sementara untuk kamera SLR karena talinya panjang bisa dikalungkan di leher agar lebih aman.
- Jangan menyentuh kaca lensa
Kadang orang berpikir bahwa lensa kamera yang kotor bisa dibersihkan dengan jari tangan. Taukah anda jika usapan jemari yang dirasa halus itu bisa berakibat lecetnya lensa kamera? Pasalnya bisa jadi saat kita mengusap ada debu halus yang terdapat ditangan, gerakan tangan pada lensa akan membuat goresan halus yang tidak kasat mata. Makanya cara terbaik membersihkan adalah dengan blower. Karenanya selain teknik penggunaan, dalam belajar fotografi kita juga harus tahu bagaimana merawat kamera.

Setting Kamera DSLR untuk malam hari

  Setting Kamera DSLR untuk malam hari memang terkadang sering membuat kita bingung, terutama bagi pemula seperti saya, mau menggunakan settingan modus malam, objek dan kamera harus benar-benar tidak bergerak, bergerak sedikit maka gambar akan kabur. Sedangkan kalau setting manual, pasti masih pada bingung kan?
Nah, karena alasan diataslah saya pada hari ini akan memberikan sedikit tips mengenai cara setting kamera dslr untuk malam hari. Inspirasi saya untuk memposting tentang hal ini adalah ketika kemarin saya liburan, dan jalan-jalan malam bersama teman saya kebingungan untuk mengatur settingan kamera dslr yang pas, dengan sedikit browsing akhirnya saya menemukan sedikit pencerahan mengenai tehnik memotret pada malam hari.
Yuk simak baik-baik tips mengenai cara setting kamera dslr untuk malam hari.
1. Nilai ISO
Jika mengambil gambar pada malam hari tanpa tripod, aturlah nilai ISO kamera untuk menjadi lebih sensitif terhadap cahaya yang ada. Misalnya, anda dapat menyetting nilai iso ke 1600 untuk mendapatkan hasil gambar yang lebih terang yang tentunya harus diimbangi dengan shutter spped yang lebih lambat. Namun perlu diingat juga bahwa semakin tinggi nilai iso akan menimbulkan 'noise' pada hasil jepretan. Nah, untuk mengatasi hal tersebut, sobat bisa menggunakan bantuan tripod untuk menghindari goncangan ketika shutter speed lebih di lambatkan dan mengurangi nilai iso.
2. Lambatkan Shutter Speed
Sudah saya singgung di bagian sebelumnya, bahwa untuk mendapatkan hasil jepretan yang lebih cerah, sobat harus melambatkan speed shutter. Hal ini dimaksudkan karena kaitannya dengan waktu sensor elektronik terkena cahaya selama proses pengambilan gambar. Semakin lambat shutter speed, maka akan semakin lambat sensor untuk mendapatkan cahaya. Untuk bagian ini silahkan sobat bereksperimen sendiri!
3. Gunakan Right Flash Light
Kamera DSLR dilengkapi dengan built-in flash, yang akan menjadi efisien saat digunakan untuk memotret di malam hari. Flash Built-in  menawarkan intensitas dan kecepatan yang berbeda, yang dapat diatur secara manual. Pertimbangkan selalu jumlah cahaya alami dan jarak dari subjek yang akan difoto. Untuk subyek yang bergerak, gunakan flash shutter speed 1/60 dari satu detik atau yang lebih cepat.
4. Lakukan Teknik ‘Bracketing’ 
Meskipun Anda telah memahami teknik fotografi, tetap sulit untuk mendapatkan hasil foto yang bagus hanya dengan sekali jepret. Intensitas cahaya yang berubah-ubah (mis: seiring tenggelamnya matahari) akan menjadi tantangan besar saat Anda hendak menentukan eksposur yang tepat. Kendala ini bisa dipecahkan antara lain dengan menerapkan teknik bracketing. Jepret obyek fotografi Anda sesuai dengan yang disarankan oleh lightmeter kamera. Setelah itu, ambil gambar lagi dengan lightmeter yang dinaikkan dan diturunkan satu atau dua tingkat. Kamera SLR tertentu telah ada yang memiki fitur bracketing otomatis sehingga Anda tidak perlu melakukannya secara manual.
saya kira hanya sedikit tips diatas yang dapat saya berikan untuk mendapatkan hasil maksimal ketika sobat mengambil gambar pada malam hari menggunakan SLR. maaf jika tips yang saya berikan ini kurang lengkap dan kurang jelas, karena saya sendiri masih sangat newbie dalam hal fotografi, semoga postingan saya ini bermanfaat. Terimakasih

Foto Bagus Tidak Hanya Menggunakan DSLR

Kemajuan teknologi semakin mendukung kegiatan fotografi. Jika dulu, yang bisa menghasilkan foto bagus hanyalah dari kamera SLR (Single Lens Reflex) ataupun DSLR (Digital Single Lens Reflex), kini zaman itu telah berlalu. Fotografi milik siapa saja.
Memang, memiliki DSLR sudah menjadi gaya hidup atau malah sebenarnya gaya-gayaan. Tetapi kehadiran smartphone yang lebih mudah dibawa dengan kamera beresolusi tinggi untuk kelas ponsel, menawarkan kepraktisan dan keasyikan tersendiri bagi pehobi foto. Terlebih lagi, kehadiran mobile application seperti Instagram di iPhone, Bibbycam di BlackBerry, Retro Camera di Android dan masih banyak lagi aplikasi-aplikasi fotografi di smartphone yang menjadi surga bagi para pecinta olahan foto. Sekali klik kamera, pilih-pilih filter, voilaa! foto biasa menjadi super keren! Ditambah lagi, hasil foto bisa langsung dishare ke social media. DSLR secanggih apapun, belum punya fitur yang bisa langsung diajak ngetwit atau upload foto di FB! :D
Saya sendiri pengguna Canon DSLR. Kamera itu saya pakai untuk mengembalikan biaya yang saya keluarkan untuk membelinya, alias dipakai untuk side job. Sesekali, saya bawa traveling. Tapi jujur, seringkali saya ingin jalan-jalan tanpa perlu membawa kamera seberat itu. Ketika traveling pun banyak objek yang tidak bisa diambil exstreme angle dengan kamera DSLR saya karena berat dan membutuhkan gaya motret yang cukup atraktif seperti tiduran untuk super low angle. Kamera BlackBerry menjadi solusinya.
Untuk foto jurnalis pun, kamera ponsel bisa ikut partisipasi. Sebelum ada BlackBerry, media online terbesar di Indonesia membekali seluruh wartawannya dengan ponsel Nokia seri N untuk mengambil gambar dan membuat video. Yang tidak bisa disandingkan antara kamera ponsel dengan DSLR adalah kecepatan menangkap gambar dan shutter lag antara satu frame ke frame berikutnya.
Tetapi, kembalikan saja ke tujuan. Kalau tujuan kita motret untuk keperluan komersil, pencetakan dengan ukuran sangat besar, butuh kecepatan menangkap momen, ya pastinya membutuhkan kamera DSLR. Namun, jika untuk kepuasan hasrat setiap hari tanpa perlu pencetakan ke ukuran sebesar billboard, kamera ponsel sangat cukup menjadi alat yang bisa kita andalkan.
Foto bagus dalam arti bisa dinikmati oleh banyak orang, memiliki unsur keindahan didalamnya, dibuat dengan komposisi yang menarik, juga terkandung nilai informasi, bisa dihasilkan oleh kamera apapun. Tak hanya milik DSLR. Karena DSLR, kamera poket dan kamera ponsel hanyalah alat. Yang terpenting adalah “the man behind the gun!” :)
————
Inilah foto-foto yang saya hasilkan dari kamera ponsel, semua diambil dari BlackBerry 9800. Ada yang sudah mengalami pengolahan warna di Photoshop, ada juga yang warna asli dari kamera BlackBerry.
Apple, I ate you!
Apple, I ate you! (foto diambil dengan mode close up)
Teratai depan rumah
Teratai depan rumah (foto makro)
Belalang (pengolahan berupa menaikan kontras warna dan efek frame)
Belalang (pengolahan berupa menaikan kontras warna dan efek frame)
Interior The Hills Hotel (tidak ada pengolahan warna)
Interior The Hills Hotel (tidak ada pengolahan warna)
Jalan cepat di Hong Kong (tidak ada pengolahan warna)
Jalan cepat di Hong Kong (tidak ada pengolahan warna)
Gereja St Johns Catedral (convert warna ke BW)
Gereja St Johns Catedral (convert warna ke BW)
Siluet lampu jalan dan gedung (foto diambil melawan matahari, pengolahan warna dibuat lebih gelap)
Siluet lampu jalan dan gedung (foto diambil melawan matahari, pengolahan warna dibuat lebih gelap)
Gedung di Hong Kong (extreme low angle)
Gedung di Hong Kong (extreme low angle)

Tips Membuat Hasil Foto Menjadi Lebih Baik



 

Setiap orang yang mengenal kamera, selalu akan berusaha untuk memperoleh foto yang lebih baik disetiap kali dia memotret. Tips yang saya uraikan dibawah ini mungkin sesuatu yang baru bagi anda yang pemula, atau sesuatu yang sering terlupakan bagi mereka yang sudah sering memotret. Berikut beberapa tips dan tricks untuk segera dapat memperbaiki hasil jepretan anda:

1. Mengkomposisikan subjek (rule of thirds).
Komposisi merupakan hal dasar tentang bagaimana kita menempatkan subjek foto pada bidang foto dibandingkan dengan elemen-elemen lain pada foto. Bagi sebagian pemula biasanya sering meletakkan subjek fotonya pada bagian tengah foto. Sekarang coba sesuatu yang berbeda yaitu dengan tidak meletakkannya ditengah. Langkah awal dengan membuat garis imajiner yang membagi bidang foto menjadi tiga bagian kearah vertical maupun horisontal. Pada beberapa DSLR, anda tinggal aktifkan fasilitas grid yang biasa tersedia, sehingga akan muncul garis-garis pada viewfinder. Kemudian letakkan subjek foto anda pada sepertiga bagian luar tersebut, bisa dimana saja asal jangan di bagian tengah. Penempatan subjek foto dalam posisi ini akan menguatkan kesan dinamis sebuah foto, cara ini lebih dikenal dengan istilah rule of thirds.

Andi Sucirta

Gambar a. Dengan prinsip rule of thirds saya menempatkan horison pada sepertiga bagian bawah. Gazebo sebagai point of interest saya letakkan di sepertiga bagian kanan komposisi agar kesannya dinamis.

2. Posisi tinggi kamera terhadap mata subjek (eye level).
Posisi tinggi kamera terhadap subjek yang difoto yaitu bisa lebih tinggi, sejajar, atau lebih rendah. Karena keengganan kadang kita terus memotret subjek dalam posisi setinggi kita berdiri. Sekarang coba, dimana anda yang harus mengikuti tinggi subjek yang difoto. Jika harus memotret anak-anak cobalah untuk jongkok sehingga posisi kamera setinggi pandangan mata (eye level) anak tersebut. Pada pemotretan bayi atau jenis satwa tertentu barangkali anda perlu posisi yang lebih rendah lagi, dengan tiarap ditanah misalnya. Teknik ini banyak membantu untuk menghasilkan foto yang lebih baik pada pemotretan manusia, satwa, dsb.

Andi Sucirta

Gambar b. Untuk memperoleh foto ini, saya harus sedikit jongkok. Tujuannya agar posisi kamera dalam satu garis dengan mata anak.

3. Sudut pengambilan gambar (angle of view).
Jangan terpaku terus mengambil gambar dengan posisi setinggi kita berdiri. Cobalah bereksperimen dengan mengambil sudut pengambilan gambar yang berbeda. Dari sudut pengambilan gambar yang lebih rendah (low angle) ataupun dari sudut yang lebih tinggi (high angle). Cari tempat yang memungkinkan anda dalam posisi yang lebih tinggi atau rendah. Contohnya anda bisa berbaring di lantai, menggunakan kursi, tangga, dsb. Dengan variasi sudut pengambilan gambar ini, anda akan mempunyai lebih banyak pilihan dan kemudian bisa menentukan foto yang terbaik diantaranya.

Andi Sucirta

Gambar c. Dengan sudut pengambilan gambar yang tinggi saya mendapatkan pemandangan yang berbeda. Subjek muncul dengan elemen shadow, dan kurva terasering berhasil muncul dengan baik. Langit sengaja tidak saya masukkan dalam komposisi untuk menghindari perbedaan kontras cahaya yang terlalu besar dengan bagian terasering.

4. Format pengambilan gambar (vertical/ horizontal)
Jika sebagian besar foto akan berhasil baik dengan format pengambilan horisontal (landscape), kenapa kemudian anda tidak juga mencoba memvariasikannya dengan mengambil juga dalam format vertikal (portrait). Hal ini akan memberikan kita keleluasaan untuk memilih nantinya. Banyak hal yang baru akan terpikirkan, ketika kita hendak menyeleksi foto-foto hasil jepretan. Untuk momen yang hanya sekali, sangat sayang kalau anda tidak mempunyai beberapa pilihan, jadi variasikanlah format mengambil gambar. format vertical horizontal andi sucirta bali photography tips and tutorial

Andi Sucirta

Gambar d. Format vertikal saya buat dengan tujuan untuk memasukkan lebih banyak bagian foreground dalam komposisi.
Gambar e. Merupakan variasi dari objek foto yang sama dalam format horisontal.

5. Mengunci titik fokus (focus lock).
Fasilitas khusus pengunciaan titik fokus dimiliki oleh sebagian besar DSLR, tapi tidak demikian halnya dengan beberapa jenis kamera saku. Namun demikian penguncian fokus pada semua jenis kamera termasuk kamera saku dapat dilakukan dengan menekan rana/ shutter realese setengahnya. Teknik ini berguna ketika titik fokus kamera kita hanya ditengah dan kita tidak ingin menempatkan subjek foto ditengah tapi pada komposisi lain sesuai keinginan. Untuk itu caranya dengan mengunci fokus, tekan tombol focus lock atau tekan rana/ shutter release setengahnya kemudian foto dikomposisikan ulang (recompose) sesuai keinginan kita, setelah pas tekan rana/shutter release sepenuhnya.

6. Manfaatkan flash.
Flash merupakan salah satu kelengkapan kamera yang sering dihindari pemakaiannya oleh beberapa fotografer. Namun dalam beberapa kondisi, flash sebenarnya dapat meningkatkan kualitas hasil foto yang anda ambil. Misalnya pada pemotretan di siang hari dimana pada subjek foto manusia sering timbul bayangan yang menggangu dibawah mata ataupun hidung, dengan flash hal ini dengan mudah dapat diatasi Teknik ini dikenal dengan istilah fill in flash. Walaupun perannya bisa diganti dengan reflector, namun tidak semua orang memiliki dan mau membawa aksesoris ini. Berbagai teknik pemakaian flash akan dibicarakan pada tips dan trick yang lain.

Andi Sucirta

Gambar f. Untuk pemotretan aksi penari Shanghyang Jaran pada kondisi pencahayaan yang minim, kali ini saya mencoba untuk tidak menaikkan ISO seperti biasanya. Pemotretan saya lakukan dengan flash yang dilengkapi filter kuning. Ternyata hasilnya lebih baik, noise tidak muncul dan cahaya flash pun cukup natural.

7. Lupakan aturan (break the rule).
Fotografi bukanlah matematika, sehingga tidak ada satupun aturan yang absolut. Namun sebelum mencoba melanggar atau melupakan aturan, tentunya kita harus memahami aturan tersebut lebih dulu. Hal yang lucu ketika anda akan melanggar aturan tapi kemudiaan tidak mengetahui aturan apa yang anda langgar. Dengan pemahaman yang baik terhadap aturan sebelumnya, foto yang anda buat dengan melanggar aturan akan lebih besar peluangnya untuk menjadi foto yang luar biasa. Jadi cobalah bereksperimen.

Andi SucirtaGambar g. Pemotretan anak kali ini saya coba dengan sudut/ angle yang lebih tinggi. Hasilnya cukup efektif dan berhasil memberikan tampilan yang unik. Karena selain menangkap ekspresi anak, lingkungan bermain disekitar anak juga dapat ditampilkan dengan baik.

Tips ini mungkin terlihat terlalu rumit kalau dibaca, tapi ketika anda terus berlatih, hal-hal yang tersebut diatas akan anda kerjakan sebagai refleks yang otomatis bekerja mensinergikan mata, pikiran, dan tangan. Jadi selamat mencoba dan terus berlatih. (Andi Sucirta)