Photography
Selasa, 26 November 2013
Rabu, 20 November 2013
Selasa, 12 November 2013
Membuat Film dengan DSLR
Berikut, saya akan membahas lebih banyak tentang pembuatan film dengan menggunakan DSLR. Apa kelebihan, apa kekurangan. Bagaimana pun juga, ke depan, film-film akan lebih banyak menggunakan kamera DSLR. Kecendrungan ke arah itu terjadi belakangan ini. Para produsen kamera, khususnya Canon dan Nikon, produk-produk DSLR terbarunya dilengkapi fasilitas pembuatan video yang hasilnya menakjubkan.Sampai bisa menyamai kualitas film yang menggunakan kamera khusus sinema.
Beberapa adegan film “Captain America” diambil dengan menggunakan DSLR, yaitu Canon 5D. Saya lupa seri Mark berapa. Dan beberapa bulan lalu, Canon mengeluarkan DSLR yang ditujukan kepada para sineas, Canon D… yang harga per unitnya sekitar Rp 170 juta.
Di Jakarta pun demikian. Ada banyak video klip artis papan atas pengambilan gambarnya menggunakan DSLR, seperti video klip Krisdayanti dan Anang Hermansyah. Bukan karena alasan biaya produksi lebih murah, tetapi kualitas gambarnya.
Secara umum, antar merk kamera DSLR, kualitasnya sama. Tinggal memposisikan kelas kameranya. Makin mahal, makin bagus kualitas gambarnya. Yang membuat mahal kamera adalah sensornya. Makin besar sensor makin mahal; makin besar sensor makin bagus kualitas gambar.
Tapi itu salah satu faktor. Faktor lainnya adalah kualitas dan jenis lensa yang digunakan. Pengalaman saya, bila kualitas video (biasa diistilahkan “movie”) telah full HD (biasa ditandai dengan angka 1920×1080 dengan frame rate 24 atau 30) atau minimal 1280×720 dengan frame rate 24 atau 30, itu sudah sangat lumayan. Jangan di bawahnya lagi, sebab pakai format rendah, itu sama saja dengan kamera ‘camcoder’.
Ya, camcoder juga sudah banyak yang full HD, sebagaimana Handycam Sony HDR-HC9 yang saya punya. Waktu beli, harganya Rp 15 juta tahun 2008.Tapi, kejernihan gambar dan variasi gambar yang bisa direkam tidak sebaik bila menggunakan kamera DSLR. Mengapa? Sebab, DSLR bisa ganti-ganti lensa. ‘Camcoder’ di bawah Rp 20 juta hampir tidak ada yang bisa ganti-ganti lensa. Jadi, mengandalkan lensa yang terpasang ‘mati’ di kamera. Masalahnya, lensa itu tidak bisa menghasilkan “bokeh” sebaik DSLR. Isolasi obyek (antara terang dengan blur) tidak begitu indah di ‘camcoder’, sedang di DSLR bisa.
Intinya adalah, kamera DSLR bisa gonta-ganti lensa. Tergantung obyek yang di-shooting, kondisi cahaya, dan efek yang ingin dihasilkan. Sebagai contoh, bila ingin merekam dari jarak jauh, ke body DSLR bisa dipakaikan lensa tele. Tapi ketika akan merekam detail, bisa ganti lensa dengan lensa mikro/makro. Demikian juga bila shooting pemandangan, ruangan, dan atau wawancara.
Jadi, walau kelihatannya hemat, investasi pada DSLR jauh lebih mahal. Meski body kamera murah (harga Rp 5-6 juta sudah lumayan sensor dan format gambar yang dihasilkan, khususnya keluaran terbaru), tapi lensa(-lensa) mahal. Mengoleksi 4-5 lensa berkualitas bagus, minimal harganya Rp 20 juta.
Ada cara hemat dengan tetap menghasilkan film yang berbeda dengan ‘camcoder’. Belilah body kamera yang spesifikasinya bagus dalam hal movie (full HD) tapi tidak terlalu mahal, rentang Rp 5 - Rp 8 juta. Lalu,gunakan lensa lebar yang kemampuan bukaannya besar.
Saya amat takjub dengan hasil shooting yang menggunakan lensa 50mm f/1.4. Bokehnya luar biasa. Tapi sayang, lensanya ‘sempit’. Untuk mengatasinya, saya menggunakan lensa lebih lebar, lensa 35mm yangbukaannya ‘hanya’ sampai f/1.8. Kedua lensa ini ada yang harganya di bawah Rp 2,5 juta di Nikon (ada lensa ukuran sama tapi harga Rp 15 juta), Rp 800 ribu di Canon. Untuk dapat ‘blur’ yang masih mantap, minimal bukaannya f/2.8, seperti pada lensa tele 80-200mm atau lensa makro 60mm. Besar bukaan di atas juga mantap mengambil gambar di bawah kondisi kurang cahaya.
Namun kekurangan lensa di atas (35mm dan 50mm), fokusnya fix atau tetap pada 35mm dan 50mm. Beda dengan lensa zoom, bisa lebar (deka), bisa tele, seperti pada lensa ukuran 18-105mm atau 18-135mm atau 18-300mm. Tapi, lensa zoom tidak bisa menghasilkan bokeh luar biasa, yang indah sebab bukaannya hanya sampai pada angka f/3.5, seperti pada lensa-lensa kit (bawaan saat beli kamera).
Kelebihan lain dengan menggunakan DSLR adalah tak perlu kaset video. Hanya butuh kartu memori (pakai yang kecepatan menulis datanya tinggi), yang bila penuh, file bisa dipindahkan ke hardisk komputer. Pada ‘camcoder’, mini-DV yang bisa memuat durasi 1 jam, harganya Rp 30.000. Kalau penuh, beli lagi. Bisa sih ditimpa, tapi 4-5 penimpaan, kualitas gambar menjadi tidak maksimal.
Dan, bila menggunakan kaset cenderung berlama-lama mengambil gambar, sebab tidak khawatir penuh. Pada DSLR pun, file yang kita mau ambil bisa dipilah-pilah sebelum dipindahkan ke komputer. Kalau kaset, tidak bisa seperti itu.
Selasa, 05 November 2013
Langganan:
Komentar (Atom)

